Banyumas - Seratusan
pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Selamatkan Slamet
memperingati Hari Bumi dengan membuka dukungan dan mensosialisasikan kondisi
Gunung Slamet yang saat ini tengah dijadikan proyek pemerintah pusat untuk
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi.
“Kami ingin menunjukan bahwa Gunung Slamet yang bagian dari Banyumas
terintegrasi di dunia. Ketika dirusak secara massif semua orang akan merasakan
dampak. Kami ingin menunjukan bahwa Slamet sedang tidak dalam baik,” kata
Koordinator Aliansi Selamatkan Slamet, Muflih Fuadi saat ditemui Tempo di
Alun-alun Purwokerto, Sabtu malam, 22 April 2017.
PLTP yang saat ini pada tahap eksplorasi tersebut, kata Muflih, setidaknya
memberikan dampak kerusakan ekologi seperti keruhnya aliran sungai di Gunung
Slamet yang pernah terjadi pada akhir 2016. Hal tersebut terjadi, karena PT
Sejahtera Alam Energy (SAE) yang mengerjakan proyek tersebut hanya bermodal
Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup. “Mereka
membuka lahan tidak mempunyai dokumen AMDAL dan membuat kebutuhan masyarakat
tentang air bersih menjadi terganggu,” katanya.
Dampak air keruh tersebut, menurut Muflih, pernah melanda 3 kecamatan di
Banyumas seperti Kedungbanteng, Karanglewas, dan Cilongok. Juga
terjadi kerusakan infrastruktur jalan di Kabupaten Brebes seperti di
Paguyangan dan Sirampong. “Proyek tersebut melibatkan perusahaan asal Jerman
yaitu STEAK GmbH yang nantinya kalau sudah jadi mereka mendapatkan pembagian
hasil sebesar 75 persen,” katanya.
Pembangunan PLTP Baturraden yang rencananya akan
memproduksi kebutuhan listrik sebesar 10 ribu MW dinilainya tidak relevan. Dari
data beberapa kementerian yang diperoleh Muflih, pada 2011-2019 ketersediaan
listrik untuk wilayah Jawa dan Bali mengalami surplus sebesar 31 persen.
“Kenapa tidak dilakukan di luar Jawa. Akibatnya flora dan fauna di kawasan
hutan lindung Gunung Slamet terancam musnah,” ujarnya.
Kepala Panglima Divisi Lingkungan Hidup Perhimpunan Pecinta Alam Eiger Corps
Rahma Adi Pratama mengatakan berdasarkan data Forest Watch Indonesia kerusakan
hutan di Indonesia semakin tahun semakin masif terjadi. Lembaga tersebut, kata
Adi, memprediksi sekitar tahun 2030 hutan di Indonesia akan akan habis.
Atas dasar itu, dia bekerja sama dengan Photo Bugs, unit kegiatan siswa di SMA
Negeri 1 Purwokerto mengadakan kerja sama melakukan pameran foto kerusakan
lingkungan akibat pembuangan sampah sembarangan. Proses pencarian foto tersebut
setidaknya dilakukan selama hampir sebulan di Desa Kalibaku, Kecamatan Baturraden.
“Kami juga ingin menyadarkan masyarakat agar sadar lingkungan. Setidaknya
dengan membuang sampah pada tempatnya,” katanya.
Mereka memamerkan sebanyak 30 foto yang merekam pembuangan sampah yang
dilakukan secara sembarangan. Selain itu, pameran tersebut juga memamerkan
pemandangan pembanding dengan 40 foto yang merekam tentang kondisi alam yang
bersih tanpa adanya sampah.
Syaiful Anwar, salah seorang warga yang turut hadir, mendukung penolakan PLTP
Baturraden dalam peringatan Hari Bumi. Keruhnya air yang pernah melanda
beberapa kecamatan di sekitar lereng Gunung Slamet adalah faktor agar proyek
tersebut perlu untuk diberhentikan. “Air bersih itu hak dasar kebutuhan hajat
hidup orang banyak,” ujarnya.






